Posts

Tehnik Merawat Banyak Blog Pribadi

Ada sekitar 5 blog yang akan saya urus. Satu blog sekolah dan empat blog pribadi. Satu blog benar-benar saya urus. Sedangkan blog lainnya, hampir tidak pernah update. Beberapa hari terakhir, saya mulai giat menyusun artikel untuk blog-blog saya. Saya mulai satu dua kali memposting artikel di beberapa blog. Kemudian menunggu perkembangan blog itu. Ada satu cara dimana saya mulai menyadari bahwa mengurusi banyak blog itu mudah. Pertama adalah niat untuk lebih serius mengurusinya. Langkah ini mutlak harus ada sejak adanya keinginan mengurusi banyak blog. Tanpa ada keniatan kuat dari diri sendiri, seberapa banyak kesempatan ide/gagasan untuk artikel blog, pasti tak akan kunjung terpublish. Langkah kedua adalah memililih strategi dalam menyusun artikel. Tidak ada larangan sebenarnya ketika blog yang satu dengan blog yang lain membahas topik yang sama. Yang tak beretika adalah ketika tulisam itu sama persis. Maka untuk mengatasinya adalah dengan pandai-pandai memparafrasekan satu arti...

Kalau hanya Menulis Omdo, Semua orang juga bisa. Apa iya?

Saya pernah memosting artikel tentang bagaimana menyusun artikel panjang tiap hari. Setidaknya tentang itu. Akan tetapi, saya sendiri meragukan kualitas tulisan tersebut. Belum lagi ketika saya merasa sedang miskin referensi. Bisa jadi apa yang saya tulis adalah kekeliruan. Meskipun tujuannya adalah benar. Hal ini akan mengurangi kualitas itu sendiri. Menulis opini menurut saya mudah dilakukan ketika apa yang menjadi bahan argumentasi meyakinkan. Sayangnya, ketika berbicara data maka akan buyar tingkat kelogisannya. Untuk mengatasinya, seorang penulis wajib memiliki bahan berupa data, referensi, catatan lain yang menunjang proses kreatifnya. Menulis berkualitas tidak sembarang orang bisa. Butuh latihan terus menerus. Butuh rujukan yang tidak sedikit. Hasan Al Banna pernah mengatakan, menulis harus sama baiknya dengan membaca. Relevansi antara membaca  dengan menulis adalah berbanding lurus. Semakin baik seseorang membaca, semakin baik pula dalam menulis. Namun relevansi...

Sekali Menulis, maka akan terus menulis

Keinginan menjadi penulis mungkin terbesit dalam pikiran saya. Tidak harus menjadi penulis terkenal macam Tere Liye, Andrea Hirata, atau Dewi 'Dee' Lestari. Menjadi penulis blog saja sudah cukup. Mengapa penulis blog? Menulis adalah suatu proses dimana ia akan mengasah salah satu keterampilan berbahasa. Lewat kata-kata yang tersusun rapi dan membentuk suatu gagasan yang bermanfaat. Sudah cukup memberikan kepuasan. Apalagi menulis blog juga sebagai sarana latihan mengasah keterampilan berbahasa. Sebenarnya kita harus sadar terlebih dahulu untuk mengetahui tentang tujuan menulis itu sendiri. Bagi saya menulis di  blog itu untuk memberikan kepuasan kepada pembaca blog saya. Karena blog yang sifatnya mudah diakses, gratis, dan selalu menjadi rujukan. Maka saya sajikan tulisan-tulisan saya. Tentang apa saja yang pembaca butuhkan. Selain itu, semua gagasan-gagasan saya tuangkan di blog bersifat hasil pengalaman, renungan, sikap saya terhadap persoalan yang  ditulis. Apalag...

Jadilah Blogger dan Pengajar

Sebenarnya ada kaitannya antara pengajar dengan kegiatan blogging. Meski dalam prakteknya tidak terlalu banyak pengajar yang suka ngeblog. Blogging adalah kegiatan menuangkan ide atau gagasan untuk menyampaikan informasi jepada pembaca. Pengajar pun sama, mereka menyampaikan informasi berupa pengetahuan kepada anak didiknya. Dari sini blogging jelas memiliki kesamaan dalam penyampaian informasi. Perbedaan keduanya terletak pada jangkauan sasaran informasi. Blogging memiliki sasaran yang lebih luas. Siapapun yang mendapati postingan blognya, maka itulah sasaran pembacanya. Sedangkan pengajar, sudah jelas, anak didik adalah sasarannya. Blogging tidak memiliki sasaran jelas siapa yang akan dituju. Siapapun bisa menjadi sasarannya tergantung bagaimana mesin penelusuran daring menyajikan blognya pada urutan teratas di daftar pencarian. Sasarannya bisa saja meluas atau bisa jadi malah tidak ada yang menemukan blognya. Banyak tidaknya jangkauan pembaca blog tergantung dari banyak...

Renungan: Bagaimana menjadi guru profesional?

Assalamualaikum..., Barangkali ini catatan kegalauan seorang Ade Andriansyah-saya sendiri. Saya sering sekali merasa belum pantas menjadi seorang guru. Padahal, dengan sadar memiliih profesi sebagai guru. Ada hal yang membuat saya rancu. Saya kadang bertanya-tanya. Apa benar saya ingin menjadi guru? Pertanyaan yang sebenarnya sanggup dijawab sendiri dan alasan sendiri. Akan tetapi, semakin ke sini sedang terjadi pergeseran keinginan. Saya condong lebih tertarik terhadap dunia teknologi. Terutama bahasa pemograman. Saya lebih tertarik membuat sebuah program berbasis visual basic, javascript, dan yang berhubungan dengan koding. Bahkan saya mulai tetarik untuk menjadi seorang programer. Sangat jauh memang keinginan ini dengan profesi guru. Apalagi saya hanya sekadar guru sekolah dasar dimana saya mengajar anak-anak di bawah umur untuk mengerti dasar-dasar pemahaman pengetahuan. Tidak mungkin pula saya mengajar ribuan kode-kode yang sebagian orang pada umumnya pun tidak akan pah...