Renungan: Bagaimana menjadi guru profesional?

Assalamualaikum...,

Barangkali ini catatan kegalauan seorang Ade Andriansyah-saya sendiri. Saya sering sekali merasa belum pantas menjadi seorang guru. Padahal, dengan sadar memiliih profesi sebagai guru.

Ada hal yang membuat saya rancu. Saya kadang bertanya-tanya. Apa benar saya ingin menjadi guru?

Pertanyaan yang sebenarnya sanggup dijawab sendiri dan alasan sendiri. Akan tetapi, semakin ke sini sedang terjadi pergeseran keinginan.

Saya condong lebih tertarik terhadap dunia teknologi. Terutama bahasa pemograman. Saya lebih tertarik membuat sebuah program berbasis visual basic, javascript, dan yang berhubungan dengan koding. Bahkan saya mulai tetarik untuk menjadi seorang programer.

Sangat jauh memang keinginan ini dengan profesi guru. Apalagi saya hanya sekadar guru sekolah dasar dimana saya mengajar anak-anak di bawah umur untuk mengerti dasar-dasar pemahaman pengetahuan. Tidak mungkin pula saya mengajar ribuan kode-kode yang sebagian orang pada umumnya pun tidak akan paham.

Bila saya berkilah, mungkin saja keinginan ini muncul karena keinginan memajukan pendidikan dalam bentuk baru. Saya berasumsi bahwa kelak pembelajaran tidak lagi dalam bentuk klasikal, ceramah, atau interaksi di dalam kelas bersama guru pada saat jam-jam sekolah. Saya meyakin bahwa pembelajaran masa depan akan lebih menggerus peradaban dan kebiasaan masyarakat, tanpa memandang usia.

Boleh jadi kebutuhan pokok terdiri dari sandang papan dan pangan. Kini, kebutuhan internet telah naik peringkat kebutuhan menjadi kategori kebutuhan pokok. Orang akan lebih merasa gusar ketika tidak memiliki kuota internet. Mereka akan gagu tidak bisa berkomunikasi dengan teman sejawat, mereka akan merasa khawatir ketika tidak ada internet: tidak bisa Whatsap-an, tidak bisa instagramnya, tidak bisa pesan Ojek Online, dan lain-lain. Saat ini kebutuhan dalam jaringan (daring=online) sudah merasuki seluruh aspek kehidupan.

Ya sudahlah .... cukup berbasi-basi.

Lantas bagaimana  menjadi guru profesional?

Saya rasa telah banyak akademisi, profesor, praktisi pendidikan menelurukan ilmunya kepada para guru-guru agar lebih profesional dalam bekerja. Melalui seminar-seminar, loka karya, simpos Sebab guru adalah sebuah profesi yang diakui. Sebuah profesi memiliki nilai jasa yang tidak bisa diambil alih oleh orang selainnya. Guru adalah suatu pekerjaan yang menunut sikap profesionalisme dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.

Sayangnya, segala bentuk dan jenis apapun seminar-seminar, tidak akan bisa terwujud menjadi seorang yang profesional tanpa adanya kesadaran untuk menjadi seorang yang profesional.

Di sinilah masalahnya. Saya merasa belum ada itikad keinginan menuju guru profesional. Sekalipun ada hanya sebatas lintasan keinginan semu tanpa ada perencanaan matang untuk mewujudkannya. Bahkan, dari sisi psikis dan spiritual pun harusnya guru memiliki pondasi yang kokoh. Tanpa kedua sisi ini, seakan-akan bangunan yang memiliki pondasi yang rapuh.


Comments

Popular posts from this blog

Jadilah Blogger dan Pengajar

e-ABSENSI CONTOH

Template Essay with Image in Every Number and this for 5 number Essay