Kalau hanya Menulis Omdo, Semua orang juga bisa. Apa iya?
Saya pernah memosting artikel tentang bagaimana menyusun artikel panjang tiap hari. Setidaknya tentang itu. Akan tetapi, saya sendiri meragukan kualitas tulisan tersebut.
Belum lagi ketika saya merasa sedang miskin referensi. Bisa jadi apa yang saya tulis adalah kekeliruan. Meskipun tujuannya adalah benar. Hal ini akan mengurangi kualitas itu sendiri.
Menulis opini menurut saya mudah dilakukan ketika apa yang menjadi bahan argumentasi meyakinkan. Sayangnya, ketika berbicara data maka akan buyar tingkat kelogisannya.
Untuk mengatasinya, seorang penulis wajib memiliki bahan berupa data, referensi, catatan lain yang menunjang proses kreatifnya.
Menulis berkualitas tidak sembarang orang bisa. Butuh latihan terus menerus. Butuh rujukan yang tidak sedikit.
Hasan Al Banna pernah mengatakan, menulis harus sama baiknya dengan membaca. Relevansi antara membaca dengan menulis adalah berbanding lurus. Semakin baik seseorang membaca, semakin baik pula dalam menulis.
Namun relevansi itu akan berlaku ketika seseorang itu benar melatihnya. Sebab membaca merupakan bagian dari ketrampilan reseptif. Kemampuan menerima informasi dari lambang kata. Sedang menulis adalah ketrampilan produktif dimana keterampilan memproduksi gagasan untuk disampaikan kepada orang lain.
Ketika seseorang sudah banyak menyerap informasi, setidaknya proses bernalarnya akan terpengaruh dengan bacaan yang dia baca. Tanpa sadar, apa yang dibaca telah mempengaruhi proses bernalar. Baik secara verbal maupun tulisan.
Oleh karena itu, ada hal yang mesti ditempa sebelum bertekad menjadi penulis. Tahap produksi, tahap pembiasaan, dan tahap metakognisi/karakter.
Tahap produksi
Tahap produksi merupakan tahap menghasilkan sesuatu. Sebelum menghasilkan ada proses yang harus dilaluinya. Tahap persiapan dalam menyiapkan bahan, tahap mengolahnya, dan tahap pemvalidan.
Semua tahap penempaan diri ini memiliki tahap proses yang sama. Ada tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Seperti dalam menulis. Ada tiga tahal dalam menulis yang mesti dilakukan. Tahapan ini mesti dilalui sebagai tahap produksi. Tahapan-tahapan itu adalah tahap prapenulis, tahap menulis, tahap editing.
Tahap pembiasaan
Selama tahap produksi itu dilakukan secara terus menerus, maka akan ada satu pembiasaan. Tahap pembiasaan ini merupakan kontinuitas dalam tahal pembiasaan.
Tahap pembiasaan tidak mengenal batas waktu. Bahkan ketika seseorang sedang dalam tahap metakognisi, tahap pembiasan masih berlangsung.
Tahap pembiasaan sangat mempengaruhi naik-turunnya tahap metakognisi.
Tahap metakognisi/karakter
Seperti penjelasan sebelumnya, tahap metakognisi sangat erat dengan tahap pembiasaan. Tahap metakognisi akan semakin kuat manakala tahap pembiasaan berlangsung. Namun, ketika seseorang berhenti dalam tahap pembiasaan, karakter/metakognisi akan menurun. Dan untuk memulai lagi, serasa sulit. Banyak sekali tahapan yang dirasa hilang, meski karakternya sudah terbentuk.
Ciri utama seseorang mencapai tahap ini adalah ketika ia sanggup menyajikan karyanya dalam waktu yang telah ditentukan. Ia tidak akan menemukan hambatan yang berarti. Semua prosesnya begitu mudah.
Belum lagi ketika saya merasa sedang miskin referensi. Bisa jadi apa yang saya tulis adalah kekeliruan. Meskipun tujuannya adalah benar. Hal ini akan mengurangi kualitas itu sendiri.
Menulis opini menurut saya mudah dilakukan ketika apa yang menjadi bahan argumentasi meyakinkan. Sayangnya, ketika berbicara data maka akan buyar tingkat kelogisannya.
Untuk mengatasinya, seorang penulis wajib memiliki bahan berupa data, referensi, catatan lain yang menunjang proses kreatifnya.
Menulis berkualitas tidak sembarang orang bisa. Butuh latihan terus menerus. Butuh rujukan yang tidak sedikit.
Hasan Al Banna pernah mengatakan, menulis harus sama baiknya dengan membaca. Relevansi antara membaca dengan menulis adalah berbanding lurus. Semakin baik seseorang membaca, semakin baik pula dalam menulis.
Namun relevansi itu akan berlaku ketika seseorang itu benar melatihnya. Sebab membaca merupakan bagian dari ketrampilan reseptif. Kemampuan menerima informasi dari lambang kata. Sedang menulis adalah ketrampilan produktif dimana keterampilan memproduksi gagasan untuk disampaikan kepada orang lain.
Ketika seseorang sudah banyak menyerap informasi, setidaknya proses bernalarnya akan terpengaruh dengan bacaan yang dia baca. Tanpa sadar, apa yang dibaca telah mempengaruhi proses bernalar. Baik secara verbal maupun tulisan.
Oleh karena itu, ada hal yang mesti ditempa sebelum bertekad menjadi penulis. Tahap produksi, tahap pembiasaan, dan tahap metakognisi/karakter.
Tahap produksi
Tahap produksi merupakan tahap menghasilkan sesuatu. Sebelum menghasilkan ada proses yang harus dilaluinya. Tahap persiapan dalam menyiapkan bahan, tahap mengolahnya, dan tahap pemvalidan.
Semua tahap penempaan diri ini memiliki tahap proses yang sama. Ada tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Seperti dalam menulis. Ada tiga tahal dalam menulis yang mesti dilakukan. Tahapan ini mesti dilalui sebagai tahap produksi. Tahapan-tahapan itu adalah tahap prapenulis, tahap menulis, tahap editing.
Tahap pembiasaan
Selama tahap produksi itu dilakukan secara terus menerus, maka akan ada satu pembiasaan. Tahap pembiasaan ini merupakan kontinuitas dalam tahal pembiasaan.
Tahap pembiasaan tidak mengenal batas waktu. Bahkan ketika seseorang sedang dalam tahap metakognisi, tahap pembiasan masih berlangsung.
Tahap pembiasaan sangat mempengaruhi naik-turunnya tahap metakognisi.
Tahap metakognisi/karakter
Seperti penjelasan sebelumnya, tahap metakognisi sangat erat dengan tahap pembiasaan. Tahap metakognisi akan semakin kuat manakala tahap pembiasaan berlangsung. Namun, ketika seseorang berhenti dalam tahap pembiasaan, karakter/metakognisi akan menurun. Dan untuk memulai lagi, serasa sulit. Banyak sekali tahapan yang dirasa hilang, meski karakternya sudah terbentuk.
Ciri utama seseorang mencapai tahap ini adalah ketika ia sanggup menyajikan karyanya dalam waktu yang telah ditentukan. Ia tidak akan menemukan hambatan yang berarti. Semua prosesnya begitu mudah.
Comments
Post a Comment