Sekali Menulis, maka akan terus menulis

Keinginan menjadi penulis mungkin terbesit dalam pikiran saya. Tidak harus menjadi penulis terkenal macam Tere Liye, Andrea Hirata, atau Dewi 'Dee' Lestari. Menjadi penulis blog saja sudah cukup.

Mengapa penulis blog?

Menulis adalah suatu proses dimana ia akan mengasah salah satu keterampilan berbahasa. Lewat kata-kata yang tersusun rapi dan membentuk suatu gagasan yang bermanfaat. Sudah cukup memberikan kepuasan. Apalagi menulis blog juga sebagai sarana latihan mengasah keterampilan berbahasa.

Sebenarnya kita harus sadar terlebih dahulu untuk mengetahui tentang tujuan menulis itu sendiri. Bagi saya menulis di  blog itu untuk memberikan kepuasan kepada pembaca blog saya. Karena blog yang sifatnya mudah diakses, gratis, dan selalu menjadi rujukan. Maka saya sajikan tulisan-tulisan saya. Tentang apa saja yang pembaca butuhkan.

Selain itu, semua gagasan-gagasan saya tuangkan di blog bersifat hasil pengalaman, renungan, sikap saya terhadap persoalan yang  ditulis.

Apalagi yang berkaitan dengan pembelajaran. Banyak sekali artikel yang membahas materi pendidikan tertentu. Harus ada pembeda antara artikel yang saya tulis dengan artikel yang telah ada.

Menulis di blog bukan perkara bagaimana menghasilkan uang dari blog.  Akan tetapi sebagai sarana berbagi pengalaman dan pengetahuan terhadap isu yang telah berkembang. Apalagi dunia pendidikan kita menuntut peserta didik menguasai kecakapan abad 21. Di situlah peran narablog hadir untuk mencerahkan pembaca  bahwa isu-isu materi pembelajaran itu seharusnya begini dan begitu. Sikap kita terhadap permasalahan harus kita tuangkan dalam tulisan. Dan semua itu harus kita tulis agar pembaca lebih mafhum. Paling tidak menambah khazanah pengetahuannya.

Menulis sebenarnya mudah bagi mereka yang telah terbiasa menulis artikel blog. Hambatan selama proses kreatif dalam menulis adalah suatu kepastian. Bahkan penulis besar pernah  mengalaminya. Tinggal bagaimana menyikapi hambatan-hambatan itu sendiri.

Seringnya terhambat karena kendala yang muncul tiba-tiba sudah jadi persoalan umum. Wajib bagi penulis untuk mengatasi masalah ini.

Tidak ada cara khusus bagaimana cara agar lolos dari hambatan yang menghadang. Setiap individu penulis memiliki cara dan strateginya sendiri. Tergantung dari perspektif dan sikap penulis  itu sendiri.

Vakum menulis telah lama, apa bisa kembali semangat seperti dulu? Banyak yang mengeluh bahwa menulis itu susah. Apa benar?

Sebenarnya tidak terlalu susah jika sudut pandang tentang menulis itu berubah. Menulis itu susah karena cara pandang proses menulis itu susah. Tidak merasa atau berusaha menemukan celah yang menyebabkan bahwa menulis itu mudah.

Seperti tulisan ini. Sebenarnya ditulis dengan media handphone. Saya simpan dalam waktu yang lama.  Saya endapkan tulisan ini untuk saya publish setelah saya rasa siap dipublikasikan.

Menulis itu tidak  mesti sekali jadi dan hasilnya sempurna.  Sebab tulisan yang baik akan terlihat dari gaya menulis penulis sendiri. Mereka telah melewati tahap kreatif yang panjang. Tidak cukup dalam hitungan hari. Apalagi sekali jadi.

Cobalah untuk menulis satu artikel. Kemudian cobalah untuk menuntaskannya. Kesan apa yang akan kita dapatkan? Sudah pasti kepuasan, bukan? Menulis satu artikel saja sudah membuat kita puas, bagaimana jika lebih dari satu?

Akan tetapi bukan kesan itu yang semestinya kita rasakan. Ada perasaan igin terus menulis lagi dan lagi. Bahwa ada yang khusus dibahas dalam artikel yang berbeda dari apa yang telah ditulis.

Seperti halnya artikel ini.  Artikel ini muncul setelah menyelesaikan salah satu artikel di blog utama saya. Rasanya ada keinginan untuk menulis satu artikel lagi. Pembahasannya sangat mirip, tetapi berbeda dalam sudut pandang dan penyajian yang berbeda pula.

Ibaratnya, sebuah roket luar angkasa.  Butuh tenaga ekstra untuk lepas landas. Seperti  itu pula proses menulis. Butuh ekstra usaha untuk kembali menggiatkan diri menulis. Agar selalu merasa rindu untuk menulis.

Comments

Popular posts from this blog

Jadilah Blogger dan Pengajar

e-ABSENSI CONTOH

Template Essay with Image in Every Number and this for 5 number Essay